Pertanyaan itu
menyelimuti kegundahan hatiku saat ini. Tidak tau sampai kapan pertanyaan itu
berhenti dalam benakku. menerobos ruang-ruang kosong kefanaan hidup yang kian
hari semakin menyata. Pahit dan manis telah menyatu di kalbuku dan menusuk
sendi-sendi tulangku. Apakah memang ini harus tetap terjadi?
Tidak ada yang
patut di salahkan saat hati telah bicara. Hati kecil ingin berkata tidak tapi tindakan
tidak pernah bisa mengiringinya. Aku pun tau banyak noktah-noktah hitam yang
telah mendarah di tubuhku. Semua itu ingin ku tampik tapi hanya hatikulah yang
sanggup menampiknya bukan diriku yang nyata ini.
Menyakiti itu
memang mudah tapi mencoba untuk memperbaikinya itu hal yang susah. Tersakiti aku
pun takut merasakanya. Hakikatnya aku tidak ingin menyakiti tapi aku pun terus
melakukanya berulang kali tanpa pernah merasakan apa yang orang lain rasakan. Apa
ini ketidak sekawanan dalam berteman, aku ragu memaknainya.




