Rencana tuhan
memanglah sangat indah. Ketika pertemuan itu menjadi sebuah pilihan ,
perpisahanpun akan datang untuk menjemputnya.
Tidak seharusnya hati menolak pada sebuah perpisahan yang telah menjadi
warna-warni kehidupan. Tak layak pula jasamani merongrong ingin menghindar pada
perpisahan, Hanya saja ketakutan yang menyelimuti jikalau perpisahan ini
memanglah perpisahan yang terakhir dan berujung tak akan bertemu kembali.
Titah-titah
kehidupan telah terangkai indah dengan kenangan bersama. Getir yang menggelitik
hati pun telah menyatu mewarnai oase perjalanan kita. Tak peduli seberapa lama
aku mengarungi sebagian kisahku. Acuh akan menjadi pilihan terbaik untuk ujung
kisah ini. Kisahku tak akan pernah menjadi sempurna tanpa ada kalian yang
mewarnainya. Cintaku pun tak akan membiru jika aku tak memaknainya. Air mataku
tak akan pernah menetes saat lezatnya kepahitan itu telah ku telan.
Memang tidak ada salah dalam tiap perkataanmu bahkan aku pun tak pantas menyalahkanmu bahkan menyangkal setiap keputusanmu. Menjawab tiap tutur katamu. Menepis apa yang menjadi pendapatmu. Aku punya alasan karena itu, alasan dimana kamu tak akan pernah memahaminya bahkan mengerti setiap posisi dalam hidupku.
Terdengar beribu kata maaf terucap di bibirmu. Terdengar pula tiap janji-janjimu. Mengapa dan mengapa tidak ada tindakan yang bisa kau buktikan untuk hal itu. Telinga ini sampai bosan mendengarnya. Hati ini pun sudah bosan dengan ucapan tanpa ada kejelasan.
Setiap orang mempunyai cara yang berbeda-beda untuk mngaplikasikan apa yang ada dalam hatinya. Berbeda pula menyikapi cara-cara mereka. Terkadang orang hanya bisa terdiam dan memendam apa yang menjadi beban di hatinya. Ada pula orang yang secara terbuka membuka dan mengungkapkan rasanya lewat kata-kata indah terucap di bibirnya.
Salah satu dari mereka mengisyaratkan hatinya lewat tulisan-tulisan seperti puisi, syair cinta bahkan surat-surat yang tak tersampaikan. Mereka lebih cenderung pendiam dan memendam rasanya. Tidak peduli apakah cinta itu akan di dapatkanya ataupun tidak. Bagi mereka yang terpenting aku mencintai dia walaupun tak bisa memilikinya.
Kali ini masalah menghampiriku satu demi satu. Menjadi orang yang tegar bukanlah hal yang mudah. Sungguh sulit menahan emosi semata. Sungguh berat juga menjadi pribadi yang ikhlas dan qonaah bahkan cinta pada apa yang menjadi takdir untuknya. Perih dan menyiksa ketika masalah itu jadi boomerang dalam hidup. La Tahzan aInna Allah ma3i!
Apakah ini diriku yang sebenarnya? Apakah ini sifatku? Pribadiku? Tabiatku? Apakah ini yang sebenarnya? Oh Allah, Apakah memang ini benar?
Ini bukanlah diriku yang selalu menangis dan mengeluh! Ini bukalah diriku yang tidak bisa menahan emosi! Ini bukan diriku yang membohongi diri sendiri! Ini juga bukan diriku yang egois dengan hal yang sepele?
Sahabatku Tercinta Ichie
Allah telah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Seorang pasangan yang berasal dari jiwa yang satu, istri berasal dari tulang rusuk sang suami yang menggabungkan antara dua menjadi satu. Menyatukan dua buah keluarga dan cinta menjadi satu raga melangkapi satu dengan yang lain.
Ketika Ia bukan Jodohku? Apa yang kamu rasakan ketika orang yang kamu nanti-nanti menjadi pilihan hatimu ternyata dengan orang lain? Apa rasanya ketika Surat undangan itu di depan matamu? Bagaimana sakitnya? Begitu kecewakan? Sedihkah?
Sebesar apapun kamu mencintainya ketika allah tidak menjodohkan dia untukmu maka tak akan bersama. Walaupun sebesar apapun rintangan menghadangmu tapi ketika allah memilihkan dia untukmu maka itu yang terbaik bagimu. mungkin Allah mempunyai kuasa lain. Dialah yang maha tau mana yang terbaik buatmu dan buatnya.
Tak di sangka ternyata kamu punya pilihan yang tidak terduga-duga. Ba’da maghrib aku berkelut dengan buku dan bahan buat ujian akhirku. Tiba seorang teman menghampiriku dan bercerita perihal kamu. Sungguh begitu memukul. Memang tak ada yang salah dari keputusanmu tapi tak seharusnya pula kau menanyakan perihal pribadi itu di hari-hariku ujian. Pikiranku bercabang saat itu. Buku yang di depanku hanya ku pandangi tanpa ada setitik pikiranku dengannya.
Kenapa harus waktu ini? Aku sedih seakan-akan kamu sendiri tidak menyadari dengan hari-harimu. Janganlah berkata seperti itu jika akhirnya kamu melukai batinku. Apalagi di tambah dengan ucapan kasarmu seakan-akan kamu enggan dengan segala tingkah lakuku. Biarkan aku berkreasi dengan hidupku walaupun toh akhirnya aku tahu itu akan berdampak buruk bagiku.
Aku duduk di temani dengan kesepian. Menerobos ruang-ruang waktu yang telah berlalu. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Mataku mengitari tiap sudut-sudut ruang kosong itu. Yah, terlintas memori-memori buruk itu di kepalaku.
Aku tidak tau harus memulai darimana. Aku pun juga tak tau mengisyaratkanya dengan apa. Sosok-sosok jahat melewati tiap keping pikiranku. Aku bukanlah seorang yang menghadapi tiap permasalahan dengan amarah. Aku pun bukan seorang yang suka berdebat tentang sesuatu yang tidak penting yang berujung dalam pertengkaran. Aku tidak suka itu semua.
Entah berapa tahun Beliau mengajarku? Entah berapa Beliau mendidikku? Entah berapa banyak ilmu Beliau salurkan padaku? Entah berapa kata-kata bijaksana yang telah menghipnotisku? Dan Entah berapa ratus cerita-cerita berharga yang telah mendorong semangatku? Dan entah berapa ribu kebaikan yang telah Beliau berikan padaku?
Cara mengajari yang membuat hati nurani tergerak untuk belajar. Cara bersikap yang membuat diri ini malu jika berbuat kesalahan. Cara berbicara yang membuat diri ini terbungkam ketika mendengarnya. Semua telah membuatku belajar apa arti dari sebuah kebaikan.
Kenapa harus engkau yang kukenal? Kenapa harus engkau yang kutau? Kenapa harus engkau yang datang? Kenapa harus engkau yang di sana bukan di sini? Kenapa harus engkau yang konyol yang ada? kenapa harus engkau semuanya… Ku pungkiri semuanya yang ada. ku telak apa yang di katakan orang. Ku tangkis tiap ocehan-ocehan orang. Ku sapa ocehan dengan wajah periang bak tak ada guratan kesedihan terpancar. Gurat hati meronta-ronta kenapa harus bertemu dengan sosok kamu. Jantung hati meledak-ledak kenapa hanya ada kamu yang ada.
Adek. . .
Mbak mengenalmu karena Allah telah menjadikan kita saudara. Saudara yang di pertemukan dalam satu keluarga bahagia. Allah juga menjadikan kasih sayang tumbuh mekar indah di antara kita. Kebahagiaan itu akan menjadi indah di tambah dengan buih-buih kasih sayang persaudaraan kita AdekQ. Memang mbak tidak bisa memberikanmu kebahagian bahkan sering menimbulkan pertengkaran di antara kita. Karena pertengkaran itu menimbulkan kerinduan hati akan sosok kecil dan cantik di mataQ.
Nahwu dan shorof? Yah ilmu itu tidak asing di dengar di kalangan pesantren. Tiap sekolah yang bernaungan pesantren tak luput dan tak pernah ketinggalan dengan 2 ilmu tersebut. Kedua ilmu yang berkesinambungan antara satu dengan yang lainya. Bagaikan tangkai dengan daunya yang tidak dapat terpisahkan. Nahwu ialah ilmu yag mempelajari perubahan harokat terkhir dalam suku kata bahasa arab, sedangkan shorof ialah ilmu yang mempelajari perubahan bentuk kata dari kata yang satu ke bentuk kata yang lainya.
Di dunia pesantren terdapat berbagai jenis kitab yang bisa di jadikan referensi dalam pembelajaran. Salah satunya adalah jurumiyah dalam kitab nahwu dan amtsilat at tasrifiyah dalam shorof. Bagi seorang pemula kitab ini sangatlah cocok untuk di rincikan dan di perjelaskan. Penjelasanya pun juga tidak rumit jadi lebih terkesan mudah.
Ta’lim Muta’lim kitab dimana ungkapan tersebut terdapat di dalamnya. Ungkapan yang begitu dasyat ketika di baca maupun di dengar. Memang ungkapan itu cenderung singkat tapi luar biasa ketika itu di dalami dan di resapi maknanya. Kata yang menjadi motivasi diri dan mengurainya dengan serpihan-serpihan keikhalasan untuk membentengi diri dari kenegativan. Kata itu menjelma menjadi magnet yang merubah serpihan itu berbentuk segumpal semangat berjuang untuk menggali ilmu setinggi mungkin dan sebanyak ilmu itu di raih.
Yah kata itu aku dapatkan ketika pesantren menjadi pilhan belajarku. Keistiqomahan membaca itu kebaikan demi kebaikan tumbuh di iringi dengan bertambahnya keilmuan yang di peroleh. Bertambahnya kecintaan menjadi tholabul ilmi yang berbudi di sambut dengan keikhlasan tertanam di hati.
Specially For Ustad Muthi’ullah
Ucaan itu selalu terbayang di benakku
Ucapan yang menyakitkan
Ucapan yang membuat hati ini membara
Dan ucapan yang cercaan belaka
Ucapan itu yang membuat aku bangkit
Membuat aku marah
Membuat aku tak terima
Dan membuat aku selalu ingin menangis
Aku ingin menangis saat ustad selalu membanding-bandingkan aku. kemampuanku selalu di samakan dengan orang yang jauh kemampuanya dari aku. aku ingin menangis, meronta , tapi apalah dayaku. Aku hanya murid yang diam dan diam. Setiap ucapan ustad itu adalah cambuk bagiku ntuk maju dan maju. Ustad adalah motivasiku, inspirasiku, dan teladanku. Mungkin memang bagi ustad itu adlah ucapan yang biasa tapi bagiku itu luar biasa. Ucapan itu selalu menyugesti aku hingga saat ini. Aku ingin membuktikan kepada ustad bahwa aku bisa, walaupun dengan kemampuan yang sangatlah minim. Syukur yang aku ucapkan kepadamu ustad. Ustad kebanggaanku dan teladanku. Melalui ustad AKU BISA. Terima kasih ustad Muthi’. Semoga allah selalu melindungi engkau dimanapun ustad berada. AMIINN,,,
El FaQir
Tyka