Aku memang tak pantas mengabaikan kepercayaanmu padaku begitu saja. Aku salah yang terlalu banyak berucap dan bertingkah. Bukanlah hal mudah memang kamu membuka beban hatimu pada orang lain tapi kenapa aku meremahkan semua itu? Maafkan aku yang terlalu banyak menuntut dengan beribu banyak pertanyaan terucap.
Menyesal karena hanya dengan satu kata kamu menjadi tidak percaya dengan segala ucapanku. Mulut memanglah tajam, aku hanayalah ingin orang lain mengerti posisimu bukan hanya melihat sosokmu yang tegar di depan semua orang dengan gaya yang tidak punya masalah. Aku pun tidak bermaksud orang lain mengasihanimu tapi aku hanya ingin semua orang menyayangimu.
Rasanya ingin menangis dan berteriak kepadamu dengan segala penjelasan tapi apalah daya kamu tidak mengerti maksudku. Memilukan ketika kata “jaga jarak” menjadi alasanmu. Aku hanya ingin rasa beban di hatimu hilang dengan berbagai candaan dari teman-teman. Aku memang salah telah bercerita. Mungkin orang yang telah menceritakan perihalku, ada hal yang salah terucap sehingga kata “Message” menjadi asing bagiku.
Part One
Awal November perjalanan hidupku di mulai di maroko negri seribu benteng ini. Negri dimana yang akan menjadi tumpuhan-tumpuhan hidup. Menapakkan kaki di bandara Muhammad V hal yang tidak di sangka-sangka. Asa tertanam di sela-sela langkah menu ibu kota Maroko, Rabat. Betapa indahnya negri ini.
Marokoku, tempat pencarian jati diriku yang sesungguhnya. Tempat tinggal baru, Universitas baru, bahkan teman pun baru. mengadaptasikan diri dengan sekitar dan mencoba memahami biy’ah yang terbentuk. Menelusuri setapak demi setapak dan harus membiasakan diri dengan komunitas arab yang sama sekali tak dikenal.
Pengembaraanku tak berujung dan merasa tidak puas dengan pembelajaran yang ada. pikiranku seakan-akan mati di sini bahkan tidak bisa mengembangkan kemampuan analisaku. Sedih tidak ada bekas keilmuan saat belajar dan berkutat dengan buku kuliah. Bukan dunia yang seperti ini yang aku inginkan. Aku ingin dunia yang terdapat berjuta ilmu keilmuan walaupun akhirnya aku hanya bisa satu di antara berjuta itu. Aku ingin kembali ke dunia pesantrenku yang tak pernah henti mengasah otakku berpikir dan berpikir.
Aku tidak berharap bakal begini akhir kisahku. Menyedihkan, haru, pilu, sakit, peri, semuanya berkumpul jadi satu. Bagaimana bisa aku mengisyaratkanya? Aku sudah cukup sakit menanggung beban ini. Beban yang menjadikan buih dalam hidupku. Sudahkah kau puas dengan apa saja yang telah engkau perbuat hingga hati ini bagai di robek-robek dengan ribuan pisau tajam? Sudahkah engkau merasa gembira telah menyakiti hatiku yang suci ini dengan irisan-irisan lukamu? Aku sudah lelah, lelah dan lelah.
Sampai kapan kau harus berpura-pura dengan kenyataan yang ada? Sampai kapankah kamu mengingkari khayalan itu dengan kenyataan? Sedikit mengertikah engkau denganku? Apakah hanya sekedar permainan hidup belaka yang sengaja kamu buat?
Permainan yang kau buat berakhir dengan sempurna. Beribu tepuk tangan aku khususkan dengan hebatnya permainanmu. Harusnya tak heran dengan itu! Sadarkah kau hancurkan khayalan-khayalan indahku?
Kelembutan itu ingin aku dapatkan dan rasakan. Tidak hanya dalam mimpi-mimpi indah tapi dengan realita. Hancurkan saja semuanya hingga bekasnya pun tak ada. ratakan saja dunia dengan puing-puing hitam yang kau buat.
Tersimpan seribu kenangan tersimpan di banyumas, leler. Lebih tepatnya di PP At Tauejih Islamiy, aku menyelami dan mendalami ilmuku. Di sanalah aku di kenalkan dunia baru. dunia yang tak pernah aku dapatkan di Surabaya. Terpaan angin lembut itu menyapa wajah ini. Suasana yang menenangkan dan mendamaikan. Sawah terhampar berhektar-hektar terhampar luas. Aku menyelami bagai mimpi belaka.
Cerita itu berawal dari perkenalkan yang tak terbayangkan. Bagaimana tidak, aku berteman dengan musuhku sendiri. Musuh yang membuat kebencian ini membara. Sekarang musuh itu menjelma sebagai sahabat terbaik bahkan bagian dari keluargaku. Berbagai telah aku lewati dengan dia. Yah dia yang berpenampilan tinggi di tambah wajah good looking yang di milikinya.
قال انك لن تستطيع معي صبر
“ Sesungguhnya engkau tidak akan sabar bersamaku”
Tiap potongan ayat itu terdengar dan terlafadz , seketika membuat dada ini sesak. Bagaimana tidak kata itu di berikan sahabat terbaikku waktu itu. Tepat di bawah naungan sholat aku berada dan al quran sebagai saksi. Terbesit dalam benak ini, apa salahku padanya? Apa yang membuat dia bekata seperti ini? Apa aku pernah tidak sabar menghadapinya? Apakah aku mengecewakanya? Masih adakah kesempatan untuk mengulang semuaya? Masih adakah kata maaf ? pertanyaan demi pertanyaan tertumbun dalam benak ini. Diam membisu. Bagai kesepian di tengah keramaian naungan sujudku.
Berkali kali aku menepis pikiranku untuk mengenang angan tentangmu. Aku mencoba untuk tidak pernah memkirkanmu. Dalam benakku, aku berkata, apakah aku mencintaimu itu hal yang salah? Apakah aku mencintaimu itu menyalahi fithrahku? Apakah cintaku ini adalah cinta yang halal bagi-Nya?
Aku mengenalmu karena kebaikanmu, aku mengenalmuu karena budi pekertimu, dan aku mengenalmu karena kesederhanaanmu. Dan aku mengenalmu karena kebaikan agamamu.
Dengan caraku aku menatapmu, Dengan caraku aku memperlakukanmu, Dengan caraku aku merindukanmu dan Dengan caraku Aku mencintaimu Cinta.
Caraku menatapmu membuat aku malu akan diriku. Pandangan yang tak terbesit rasa jahat sekalipun. Sesekali saja aku menatapmu, memandang lekat kelembutan wajahmu. aku menghindari pikiran-pikiran jahat yang memenuhi relung jiwaku. Gurauan tak bermakna aku lontarkan hanya untuk menutupi bahwa aku menyimpan hati. Memang aku hanya perempuan yang tak pernah serius dalam hal apapun, tapi untuk saat ini aku mencintaimu dengan segala kerendahan hatiku.
Amanatul Ummah ialah tempat dimana persahabatan itu ada. Persahabatan itu tumbuh menjadi sebuah keluarga. Keluarga dimana kita adalah satu, jika satu sakit maka semuanya pun akan merasakan sakit itu. Di sini kita menangis, tertawa, bercanda, suka , duka, senang maupun sedih. Dan di sinilah aku menemukan teman-teman terbaik sekalipun sahabat-sahabat terbaik.
RivalQ : Anggren: aku mengenalnya ketika aku duduk di bangku MA. Aku pun tak tau ternyata ialah yang menjadi saingan terberatQ waktu itu. Dia anak yang cerdas, pintar, dan suka berorganisasi. Aku mengenalnya sebagai pribadi yang keras kepala tapi di dalam hatiny tersimpan sejuta kelembutan. Tangisannya yang selalu aku ingat samapai sekarang. Menangis karena keluhan2nya dan masalah2nya. Dia pribadi yag setia kawan, ceria, dan selalu ingin jadi yang terbaik. Dia pribadi yang selalu mewujudkan impian2any untuk selalu jadi kenyataan. Aku belajar dari sosok dia yang tidak patah semangat walaupun nyatanya aku tak rela ketika dia mengalahkanku. Tapi I LIKE THAT. Terima kasih Sahabat n RivalQ.