Aku duduk di temani dengan kesepian. Menerobos ruang-ruang waktu yang telah berlalu. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Mataku mengitari tiap sudut-sudut ruang kosong itu. Yah, terlintas memori-memori buruk itu di kepalaku.
Aku tidak tau harus memulai darimana. Aku pun juga tak tau mengisyaratkanya dengan apa. Sosok-sosok jahat melewati tiap keping pikiranku. Aku bukanlah seorang yang menghadapi tiap permasalahan dengan amarah. Aku pun bukan seorang yang suka berdebat tentang sesuatu yang tidak penting yang berujung dalam pertengkaran. Aku tidak suka itu semua.
Terkadang kita tak sadar betapa banyak anugrah yang Sang Kholik berikan pada kita. Terkadang juga kita tak sadar bahwa kenikmatan itu terkufurkan karena perbuatan-perbuatan kita. Dan terkadang kita pun tak sadar bahwa kenikmatan telah di depan mata kita.
Ku telusuri jalan-jalan terjal. Kuhadapi kerikil-keril kecil menghadangku. Ku sapu dengan butir keikhlasan. Ku warnai dengan tiang kesabaran. Ku maknai dengan cobaan. Cukup Allah lah yang menjagaku.
Cukupkanlah cinta kasihmu menjadi penawar rinduku. Cukupkanlah kuasamu menjadi semangat bagiku. Cukupkanlah lathifmu menjadi ujung penguatku. Cukupkanlah ilmumu menjadi asas pemahamanku. Dan cukupkanlah hatiku pada penjagaanmu.
Entah berapa tahun Beliau mengajarku? Entah berapa Beliau mendidikku? Entah berapa banyak ilmu Beliau salurkan padaku? Entah berapa kata-kata bijaksana yang telah menghipnotisku? Dan Entah berapa ratus cerita-cerita berharga yang telah mendorong semangatku? Dan entah berapa ribu kebaikan yang telah Beliau berikan padaku?
Cara mengajari yang membuat hati nurani tergerak untuk belajar. Cara bersikap yang membuat diri ini malu jika berbuat kesalahan. Cara berbicara yang membuat diri ini terbungkam ketika mendengarnya. Semua telah membuatku belajar apa arti dari sebuah kebaikan.
Kenapa harus engkau yang kukenal? Kenapa harus engkau yang kutau? Kenapa harus engkau yang datang? Kenapa harus engkau yang di sana bukan di sini? Kenapa harus engkau yang konyol yang ada? kenapa harus engkau semuanya… Ku pungkiri semuanya yang ada. ku telak apa yang di katakan orang. Ku tangkis tiap ocehan-ocehan orang. Ku sapa ocehan dengan wajah periang bak tak ada guratan kesedihan terpancar. Gurat hati meronta-ronta kenapa harus bertemu dengan sosok kamu. Jantung hati meledak-ledak kenapa hanya ada kamu yang ada.
Adek. . .
Mbak mengenalmu karena Allah telah menjadikan kita saudara. Saudara yang di pertemukan dalam satu keluarga bahagia. Allah juga menjadikan kasih sayang tumbuh mekar indah di antara kita. Kebahagiaan itu akan menjadi indah di tambah dengan buih-buih kasih sayang persaudaraan kita AdekQ. Memang mbak tidak bisa memberikanmu kebahagian bahkan sering menimbulkan pertengkaran di antara kita. Karena pertengkaran itu menimbulkan kerinduan hati akan sosok kecil dan cantik di mataQ.
Nahwu dan shorof? Yah ilmu itu tidak asing di dengar di kalangan pesantren. Tiap sekolah yang bernaungan pesantren tak luput dan tak pernah ketinggalan dengan 2 ilmu tersebut. Kedua ilmu yang berkesinambungan antara satu dengan yang lainya. Bagaikan tangkai dengan daunya yang tidak dapat terpisahkan. Nahwu ialah ilmu yag mempelajari perubahan harokat terkhir dalam suku kata bahasa arab, sedangkan shorof ialah ilmu yang mempelajari perubahan bentuk kata dari kata yang satu ke bentuk kata yang lainya.
Di dunia pesantren terdapat berbagai jenis kitab yang bisa di jadikan referensi dalam pembelajaran. Salah satunya adalah jurumiyah dalam kitab nahwu dan amtsilat at tasrifiyah dalam shorof. Bagi seorang pemula kitab ini sangatlah cocok untuk di rincikan dan di perjelaskan. Penjelasanya pun juga tidak rumit jadi lebih terkesan mudah.