Kali ini masalah menghampiriku satu demi satu. Menjadi orang yang tegar bukanlah hal yang mudah. Sungguh sulit menahan emosi semata. Sungguh berat juga menjadi pribadi yang ikhlas dan qonaah bahkan cinta pada apa yang menjadi takdir untuknya. Perih dan menyiksa ketika masalah itu jadi boomerang dalam hidup. La Tahzan aInna Allah ma3i!
Apakah ini diriku yang sebenarnya? Apakah ini sifatku? Pribadiku? Tabiatku? Apakah ini yang sebenarnya? Oh Allah, Apakah memang ini benar?
Ini bukanlah diriku yang selalu menangis dan mengeluh! Ini bukalah diriku yang tidak bisa menahan emosi! Ini bukan diriku yang membohongi diri sendiri! Ini juga bukan diriku yang egois dengan hal yang sepele?
Sahabatku Tercinta Ichie
Allah telah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Seorang pasangan yang berasal dari jiwa yang satu, istri berasal dari tulang rusuk sang suami yang menggabungkan antara dua menjadi satu. Menyatukan dua buah keluarga dan cinta menjadi satu raga melangkapi satu dengan yang lain.
Ketika Ia bukan Jodohku? Apa yang kamu rasakan ketika orang yang kamu nanti-nanti menjadi pilihan hatimu ternyata dengan orang lain? Apa rasanya ketika Surat undangan itu di depan matamu? Bagaimana sakitnya? Begitu kecewakan? Sedihkah?
Sebesar apapun kamu mencintainya ketika allah tidak menjodohkan dia untukmu maka tak akan bersama. Walaupun sebesar apapun rintangan menghadangmu tapi ketika allah memilihkan dia untukmu maka itu yang terbaik bagimu. mungkin Allah mempunyai kuasa lain. Dialah yang maha tau mana yang terbaik buatmu dan buatnya.
Tak di sangka ternyata kamu punya pilihan yang tidak terduga-duga. Ba’da maghrib aku berkelut dengan buku dan bahan buat ujian akhirku. Tiba seorang teman menghampiriku dan bercerita perihal kamu. Sungguh begitu memukul. Memang tak ada yang salah dari keputusanmu tapi tak seharusnya pula kau menanyakan perihal pribadi itu di hari-hariku ujian. Pikiranku bercabang saat itu. Buku yang di depanku hanya ku pandangi tanpa ada setitik pikiranku dengannya.
Kenapa harus waktu ini? Aku sedih seakan-akan kamu sendiri tidak menyadari dengan hari-harimu. Janganlah berkata seperti itu jika akhirnya kamu melukai batinku. Apalagi di tambah dengan ucapan kasarmu seakan-akan kamu enggan dengan segala tingkah lakuku. Biarkan aku berkreasi dengan hidupku walaupun toh akhirnya aku tahu itu akan berdampak buruk bagiku.
Sholat adalah salah satu cara ita dekat dengan Allah. Kapan lagi kita mengingatnya tanpa ada nafsu dunia yang mengiringinya. Memang obat paling manjur saat kita di rundu berbagai masalah dunia hanyalah sholat an berdoa. Siapa lagi yang menjadi sandaran kecuali Dia Allah. Rahasia sebesar apapun kita curhatkan kepada Sang pemilik hidup itu tidak akan pernah menyebar bahkan Allah akan menutupinya. Berbeda ketika rahasia kita paparkan kepada sesama makhluk, tidak jarang kita merasa was-was, ragu bahkan takut jika rahasia itu terbuka dan menjadi aib bagi kita.
Manusia di uji coba oleh allah dengan ujian hidup baik itu yang di khususkan di dunia ataupun ujian yang bermaksud dengan akhirat. Ujan dari allah bisa di artikan dengan banyak hal. Yakni ketika kita di rundung dengan berbagai permasalahan hidup, lilitan hutang, kegagalan dalam ujian bahkan susahnya menerima pelajaran pun termasuk ujian. Tidak ada yang kekal di dunia ini. Tak selamanya orang merasakan kenikmatan dan tak selamanya juga memperoleh kesusahan.
Allah memang Maha adil pada hambanya. Mengetahui apa yang terbaik dan hal terburuk bagi hambanya. Walaupun kita sering merasa yang terbaik menurut kita itu baik tapi terburuk bagi allah dan begitu pula sebaliknya. Seperti di jelaskan dalam Al Quran ( Al Baqoroh: 216).
Terdiam membaca butiran mutiara indah
Mengagumi keindahan tulisanya
Menyelami bagai air di setiap bait-baitnya
Hanyut mengikuti arusnya
Malam di penuhi bintang
Menjadikannya terang benderang
Sang anak adam berkeliaran
Menelusuri di tiap sudut jalan
Entah berapa kata terucap
Entah berapa hitungan terbilang
Berharap ada burung sang pembawa pesan
Mengantarkan rinduku yang tak tersampaikan
Note: “ kekaguman akan seseorang di tengah-tengah rindu akan mahabbahnya”
To: Hamba Allah yang jauh di ufuk timur
El faQir
Aku tidak berharap bakal begini akhir kisahku. Menyedihkan, haru, pilu, sakit, peri, semuanya berkumpul jadi satu. Bagaimana bisa aku mengisyaratkanya? Aku sudah cukup sakit menanggung beban ini. Beban yang menjadikan buih dalam hidupku. Sudahkah kau puas dengan apa saja yang telah engkau perbuat hingga hati ini bagai di robek-robek dengan ribuan pisau tajam? Sudahkah engkau merasa gembira telah menyakiti hatiku yang suci ini dengan irisan-irisan lukamu? Aku sudah lelah, lelah dan lelah.