Rencana tuhan
memanglah sangat indah. Ketika pertemuan itu menjadi sebuah pilihan ,
perpisahanpun akan datang untuk menjemputnya.
Tidak seharusnya hati menolak pada sebuah perpisahan yang telah menjadi
warna-warni kehidupan. Tak layak pula jasamani merongrong ingin menghindar pada
perpisahan, Hanya saja ketakutan yang menyelimuti jikalau perpisahan ini
memanglah perpisahan yang terakhir dan berujung tak akan bertemu kembali.
Titah-titah
kehidupan telah terangkai indah dengan kenangan bersama. Getir yang menggelitik
hati pun telah menyatu mewarnai oase perjalanan kita. Tak peduli seberapa lama
aku mengarungi sebagian kisahku. Acuh akan menjadi pilihan terbaik untuk ujung
kisah ini. Kisahku tak akan pernah menjadi sempurna tanpa ada kalian yang
mewarnainya. Cintaku pun tak akan membiru jika aku tak memaknainya. Air mataku
tak akan pernah menetes saat lezatnya kepahitan itu telah ku telan.
Pertanyaan itu
menyelimuti kegundahan hatiku saat ini. Tidak tau sampai kapan pertanyaan itu
berhenti dalam benakku. menerobos ruang-ruang kosong kefanaan hidup yang kian
hari semakin menyata. Pahit dan manis telah menyatu di kalbuku dan menusuk
sendi-sendi tulangku. Apakah memang ini harus tetap terjadi?
Tidak ada yang
patut di salahkan saat hati telah bicara. Hati kecil ingin berkata tidak tapi tindakan
tidak pernah bisa mengiringinya. Aku pun tau banyak noktah-noktah hitam yang
telah mendarah di tubuhku. Semua itu ingin ku tampik tapi hanya hatikulah yang
sanggup menampiknya bukan diriku yang nyata ini.
Menyakiti itu
memang mudah tapi mencoba untuk memperbaikinya itu hal yang susah. Tersakiti aku
pun takut merasakanya. Hakikatnya aku tidak ingin menyakiti tapi aku pun terus
melakukanya berulang kali tanpa pernah merasakan apa yang orang lain rasakan. Apa
ini ketidak sekawanan dalam berteman, aku ragu memaknainya.
Mimpi yang telah
tertunda itu telah menjadi jalan terang bagiku. Allah memang tidak pernah
menghalangi niatku untuk mencari ilmu. Jalan itu selalu ada dan titik terang
itu pun mulai nyata. Mimpi yang telah di tunggu 6 tahun sudah telah menjadi
nyata walaupun mimpi itu tidak bisa sempura seperti yang kita teorikan.
Maghrib, Negri
dimana bangunan mimpiku telah sampai pada peraduanya. Negri dimana pengarang
Alfiah Imam Malik ini sangat masyhur kealimanya. Negri yang mayoritas
penduduknya menggunakan madzhab maliki sebagai dasar hukumnya. Kitab Alfiah
yang sudah tidak di ragukan orang mengetahuinya dan mempelajarinya.
Awalnya timbul
keraguan untuk membuka mimpi yang telah tertunda itu menjadi kenyataan. Keraguan
adanya karena aku harus di hadapkan 2 kondisi yang berlawanan. Kitab-kitab
kuliah yang harus aku baca untuk memahaminya dengan menuai mimpi itu menjadi
kenyataan di negri Imam malik ini. Ternyata Allah memang telah merencanakan sesuatu yang indah di dalam
skenario untuk hambanya. Ini lebih indah seperti yang di bayangkan.
Di waktu yang
tidak terbayangkan, mataku menyusuri sekeliling yang di dalamnya tak lain
sedang mengkaji kitab Alfiah. Pengajaran Alfiah yang menggunakan bahasa pertiwi
membuat lebih mudah di pahami dan di mengerti membuatku tertarik ingin masuk
kedalamnya. Tanda Tanya yang ada: “ Apakah aku bisa menjadi bagian dari mereka?”.
Sungguh terdiam seribu bahasa apakah memang ini jawaban dari semua keinginan?
Alfiah adalah ilmu yang mempelajari tentang nahwu dan shorof. Nahwu yang
berhubungan dengan berubahnya akhir kalimat di sebabkan amil yang masuk dan
sholrof adalah perubahan bentuk kata yang satu ke kata yang lain yang di
jadikan dalam peyesuaian kalimat.
Alfiah adalah nama kitab yang selama ini aku dambakan untuk
mempelajarinya. Tidak tau rasa itu mulai dari kapan. Sejak menjadi santri di
kelas 4 rasa ingin tahuku semakin menjadi-jadi. Padahal kalau di bilang tau
kitabnya pun aku tidak mengetahuinya. Hanya saja guru-guruku selalu berkata “
Jikalau kalian ingin serius belajar ilmu nahwu alangkah baikny kalian pernah
tahu dan belajar ALFIAH”.
Sifat
keingintahuan ini yang menjadikanku terus mencari dan mencari. Aku beranikan
diriku untuk meminjam kitab pada guruku. Yah,
aku mendapatkan dua buah kitab, satu di syarahi oleh Imam Malik dan satu
di syarahi oleh Ibnu Aqil. Tapi keingintahuan ini tak cukup ketika lembar demi
lembar alfiah aku baca dan pahami, Gumamku dalam hati “ Kitab ini begitu Simple
dan Komplit dari perbaitnya tapi mengapa aku semakin susah memahaminya?”.
Idul Adha adalah
hari raya kurban bagi orang muslimin. Dan orang muslim yang ingin berkurban
maka berkurbanlah seperti di jelaskan ayat Al Quran Al Kautsar ayat 2. Berkurban
yakni menyembelih binatang ternak yang di niatkan semata-mata karena Allah Ta’ala.
Maroko, Idul
Adha memang terasa berbeda dengan di Indonesia di sebabkan karena Indonesia
dengan maroko mempunyai kebudayaan yang berbeda. Dari mulai cara dan sistem berkurban
berbeda.
Di Indonesia berbeda
pula dengan maroko. Indonesia hari raya kurban tidah seramai Hari Raya fitri. Ketika
hari raya fitri jalan, tempat di penuhi warga dengan berbagai kesibukan untuk mempersiapkan
apa-apa menjelang hari fitri. Tapi ketika hari raya kurban nampak lebih sepi
dari Hari fitri.